Puisi di Tiga Agustus Dua Ribu Empat Belas Dini Hari

Dan ini adalah rindu ke sekian yang hanya mampu diucapkan hanya melalui aksara Dan aksara tersebut bergeming, enggan bergerak ke pusat rindunya.. Malu, katanya. Gengsi, tambahnya Lalu si pusat yang dirindukan tidak merasakan apa – apa, maka acuh tak acuh, lalu menanam rindunya ke pusat yang ia tetapkan Ini pesanku pada akhirnya, ini efeknya, jika…