Rintih Lirih si Posesif

  Bukan satu janji besar yang harus kupertahankan hanya karena aku tahu kamu akan kembali pada akhirnya. Pelukmu, pelukmu yang erat membuatku nyaman, rasa yang tidak dapat kuterjemahkan, hanya ada bahagia yang terpendar di ruangan ini. Di kamar ini, hanya kita berdua. Enggan kutempatkan saksi mata di dalamnya. Toh siapa yang peduli? Mereka sudah tahu…

(im)perfection

Selulosa adalah serat, baik untuk pencernaan. Maka tidak akan pernah salah kalau aku mengonsumsinya banyak – banyak. Aku memakan kembali selulosa tersebut. Aku kelaparan, sangat lapar. Air mineral itu tidak akan bisa menghilangkan dahaga dan rasa lapar ini. Sret.. sret.. sret.. Aku mengunyahnya lagi, tidak peduli jam berapa ini. Sudah terlalu malam, namun aku lapar….

Knock knock..

Tok.. tok.. “Siapa itu?” Aku bertanya, mungkin untuk kesekian kalinya. Masih hening, tanpa jawaban. Aku mengintip dari balik pintu, perlahan. Masih sama, tidak ada siapa – siapa. Aku masih terperangkap di sini, berharap seseorang dapat mengeluarkan aku. Aku tidak bebas, ingin lepas. Tok.. tok.. “Siapa itu? Papa? Anabel? Idra?” Aku setengah berteriak, humor ini menjadi…