Puisi di Tiga Agustus Dua Ribu Empat Belas Dini Hari

Dan ini adalah rindu ke sekian yang hanya mampu diucapkan hanya melalui aksara Dan aksara tersebut bergeming, enggan bergerak ke pusat rindunya.. Malu, katanya. Gengsi, tambahnya Lalu si pusat yang dirindukan tidak merasakan apa – apa, maka acuh tak acuh, lalu menanam rindunya ke pusat yang ia tetapkan Ini pesanku pada akhirnya, ini efeknya, jika…

Lima hari lagi, sayang

Tepat 7200 menit lagi, tidak ada lagi air mancur menari yang mengingatkanku tentangmu Akan hilang nanti perasaan yang menjadi kalut saat Lego House sengaja didengarkan, atau tidak sengaja diputarkan Surat yang akan kukubur jauh, tanpa bekas, biar hilang lekas Lima hari lagi, Sayang Fisikmu hanya sebuah cerita fiksi yang indah Percakapan kita adalah selentingan inspirasi…