Titik Sendu di Awal November

Aku melihatmu sebagai sesuatu yang diam Nyatanya kamu bergerak di banyak titik dan aku masih saja tidak bergeming Aku melihatmu sebagai sesuatu yang maya Padahal kamu nyata, menancapkan satu kavling besar di pikiranku untuk kau tempati Aku melihatmu sebagai sesuatu yang tidak pasti Tidak akan pernah datang lagi, atau tidak ingin datang kembali Maka saat…

A Hole in My Heart

Kau tidak pernah janjikan jarak yang akan segera menyusut hingga sebatas jarak udara yang kau hembuskan menggapaiku Kau membiarkannya merentang Kau tidak pernah tuliskan kata sebatas makna bias yang menyatakan bahwa ada saatnya kau menuliskan segala rasa tidak dengan aksara lagi Kau membungkam aksara Kau menyingkir halus, saat kulingkarkan lenganku hanya untuk membuatmu nyaman dan…

3 Tahun (+2)

Reza membuka lagi salah satu blognya. Blog yang urung terbaca oleh siapa pun. Reza sengaja membuka blognya dari luar, tidak masuk ke akunnya, dirinya sedang ingin memposisikan dirinya sebagai pembaca, bagaimana jika ada orang yang tidak sengaja menemukan cerita ini dengan modal Google Search. Sebisa mungkin Reza tidak pernah menyantumkan tag pada setiap tulisannya, namun…

Ditunggu/Menunggu

  Ditunggu, Kamu memang selalu suka ditunggu Mengulur waktumu yang lama untuk berdandan Tapi aku tidak pernah menyesal kalau kamu harus ditunggu Karena saat kamu keluar menyambutku, aku merasa melihat bidadari yang baru selesai bekerja di kayangan sana   Ditunggu, Kamu memang selalu suka ditunggu Memintaku untuk lekas menjemput ke kantormu Padahal kamu selalu pulang…

Doa Salah Tujuan

  Tertidur dengan kaki bersila dan kepala yang hampir sejajar dengan punggungnya, menyentuh lantai. Hanya orang-orang yang mempunyai tingkat elastisitas yang tinggi yang mampu melakukan pose tersebut, dalam keadaan tertidur pula. “Heeeei banguuun, kerjaa!!!” Aku mengguncang-guncangkan punggungnya, membuat gangguan yang pasti membuat dia mengernyitkan mata. Dengan mata mengantuk dia mengangkat badannya, mukenanya masih dikenakan. “Aku…

Satu Kata Sapa Pertama

Aku merasakan tubuhku mulai mempercepat lajunya, aku merasakan gelap yang teramat dalam sampai akhirnya aku mulai sadar belum saatnya aku berteriak, belum saatnya aku ketakutan. Lama aku menahan diri untuk melawan seluruh ketakutanku ketika akhirnya secercah warna mulai membentuk namanya, menampakkan diri. Merah, kuning, putih, krem.   Aku berhasil mencapai Lucid Dreamku.   Aku melihat…