Biar Indah (Hanya) di Mimpi

Malam itu lagi, kau merambah ke mimpi Untuk pertama kali Diam, menunggu disapa Lalu pergi seakan tidak ada apa – apa Kau bisikkan kalimat pertama Tiga kata basi – basi yang membuatku jatuh cinta Lagi, ini kesalahan yang ke sekian kali Sama seperti cerita yang dulu, aku enggan lepaskan tali Oh ya, aku pikir kemarin…

Jangan Salahkan Saya..

Jangan salahkan saya kalau saya baru merasa cantik sekarang Jangan pernah tanya ke mana saja selama ini baru merasakan hal itu Jangan salahkan saya kalau saya baru suka mematut diri sekarang Ya.. itu karena kamu Kamu membuatku seperti sekarang ini Dimulai dari kemarin malam, di jam 19:15 Ingat itu

Puisi di Tiga Agustus Dua Ribu Empat Belas Dini Hari

Dan ini adalah rindu ke sekian yang hanya mampu diucapkan hanya melalui aksara Dan aksara tersebut bergeming, enggan bergerak ke pusat rindunya.. Malu, katanya. Gengsi, tambahnya Lalu si pusat yang dirindukan tidak merasakan apa – apa, maka acuh tak acuh, lalu menanam rindunya ke pusat yang ia tetapkan Ini pesanku pada akhirnya, ini efeknya, jika…

Rengkuhan Lepas Rasa

  Aku adalah tempurungmu Memberimu perlindungan ketika menatap sang Matahari pun kau ketakutan Aku selalu berada di sekelilingmu Meyakinkanmu bahwa gelap tidak selamanya nyaman untukmu bahkan untuk sang Penyendiri Aku adalah rantingmu Tempatmu bergantung bagai daun yang belum siap melepas dan bergabung bersama angin Aku mendekapmu erat, agar tidak hilang terbawa angin Meyakinkanmu bahwa melepaskan…