Puisi di Tiga Agustus Dua Ribu Empat Belas Dini Hari

Dan ini adalah rindu ke sekian yang hanya mampu diucapkan hanya melalui aksara Dan aksara tersebut bergeming, enggan bergerak ke pusat rindunya.. Malu, katanya. Gengsi, tambahnya Lalu si pusat yang dirindukan tidak merasakan apa – apa, maka acuh tak acuh, lalu menanam rindunya ke pusat yang ia tetapkan Ini pesanku pada akhirnya, ini efeknya, jika…

Mengembalikan Jawaban

Ingatkan aku untuk jatuh cinta Karena saat bulan menampakkan sabitnya Waktu kembali berjalan sambil mencecar tanya Kapan? Lalu kukembalikan jawab, sambil terulurkan waktu Nanti   Ingatkan aku untuk jatuh cinta Ketika kupu – kupu sedang tenang Berdiam diri di lorong terjauh dari hati Si kupu – kupu ikut mencecar tanya Kapan? Lalu kukembalikan jawab, sambil…